http://www.ingkirinaldi.blogspot.com/
April 29th, 2008 by ingkirinaldicheck out my thoughts at
check out my thoughts at
kata banyak orang indonesia, kalo mau beli mobil bekas, carilah toyota. dukungan purna jual yang hebat, jadi keunggulan penting. imbasnya, suku cadang ada dimana-mana.
dampaknya lagi, karena kekhasan orang indonesia yang fanatik merek, sebodo amat dengan kualitas produknya, banyak orang yang punya. karena massal, maka hampir semua montir paham seluk beluk mesin mobil yang kalau lambangnya dipelesetkan itu, mirip setan bertanduk.
tentu, paling penting dari lika-liku bermobil bekas adalah soal harga. nah, merek dagang yang disebut karena lebih enak dibandingkan nama toyoda, yang adalah keluarga pendiri raja otomotif dunia itu, punya keunggulan komparatif soal ini.
menang, karena harga jual yang relatif tak banyak anjlok dibandingkan merek lain yang sejenis pada tahun serupa. padahal, mungkin saja, saat masih baru, si toyoda yang toyota itu lebih murah harganya dari produk bikinan soichiro honda yang penggila kecepatan.
maka, dengan gagah berani, gue carilah salah satu produksi toyota, yang awal mula bisnisnya tekun di bidang pabrik tenun. salah satu ikon pabrik otomotif dunia itu, pada akhir 80-an jadi pilihan. disebut ikon, karena saat ini setiap enam detik, satu "bayi" toyota lahir dari rahim pabriknya yang ada pada sejumlah fasilitas di seantero jagad.
tanpa banyak kesulitan, satu unit starlet berkelir biru akhirnya bisa parkir bebas di depan rumah. tambah lagi, yang si empunya sebelumnya adalah tangan pertama.
jadi, setelah bekerja keras selama empat tahun, jadilah gue pemilik kedua mobil mungil yang punya kapasitas tak lebih dari 1.000 cc itu.
perasaan puas langsung melanda. gak perlu lagi bingung kalo panas di siang bolong, atawa pas ujan datang. tinggal duduk, nikmati musiknya keenan nasution atawa lagunya benyamin suaeb, dan bejek gas. lalu meluncur.
memang gak sehebat tatkala adrenalin berdesir waktu memacu ratusan tenaga kuda di jalur pantura. gak sebanding ketika torsi melimpah yang disediakan mesin berteknologi injeksi bahan bakar menyandarkan kepala dalam benaman kursi, saat pedal gak diinjak penuh seketika.
tapi setidaknya si biru mungil ini bisa mengasapi sejumlah minibus yang lalu lalang. dengan lincahnya, ia juga bisa meliuk mantap di tengah gempuran raksasa-raksasa jalanan yang punya banyak roda untuk menjaga traksi di muka jalan.
cuma, akhir-akhir ini gue kok sering merasa aneh. rasanya, sebagai pencinta kamus efisiensi, mesin tua yang masih mengandalkan koil sebagai penerus sinyal pengapian mesin dari kunci kontak itu, kok ya nggak cocok.
sekalipun nyaman, "nyonya tua" ini adalah peminum bensin yang lumayan rakus. mungkin ini ada hubungannya dengan mesin yang belum lagi diset ulang. heeh, lagaknya jadi manja. dikit-dikit maunya mampir ke pom bensin.
tapi, sekarang ini, dampak utama dari sifatnya yang peminum itu, pasti kemampuannya untuk membakar bensin di ruang mesin yang tambah besar. akibatnya lagi, si biru mungil itu sedikit banyak telah menyumbang bagi pemanasan global.
mungkin aja, karena gak ada yang tau, melelehnya sebagian lapisan es di belahan arktik disebabkan si biru mungil ini. karena itulah, seringkali gue minder kalo ketemu angkot di jalan.
bukan karena si biru mungil lebih tua. tetapi, karena hawa si biru mungkil ternyata lebih hot. inilah, mungkin, kenapa pemilik lamanya melakukan langkah keliru dengan mancabut thermostat si biru mungil.
yah, sembari nunggu restorasi mesin, akhirnya si biru mungil lebih banyak ada di kandangnya. numpang di garasi kantor, karena garasi yang di rumah belum juga jadi.
gue pun kembali menikmati aktivitas menunggangi roda dua. kadang pake yang bermesin, kadang nikmatin yang dikayuh pedal.
yeah, bersepeda. emang keasyikannya gak bisa dibandingin apple to apple ama naek mobil ato motor. tapi kenikmatan tujuh rupa dijamin bisa didapet lewat moda transportasi yang satu ini.
sekayuh dua enjot, mungkin masih pegel. tapi kalo udah biasa, dijamin nikmat melanda.
apalagi kalo si junior minta ikut bonceng di sadel depan. hmmm, bisa lebih terasa syip daripada sekedar mendudukan si kecil di kursi depan si biru mungil.
malam itu, tanpa firasat apapun, kustarter motor di lantai bawah kantor. hati riang, pekerjaan selesai. saatnya pulang, mengamati geliat mungil si kecil yang dalam bayangan pasti sudah terlelap. tinggal sekitar satu setengah jam sebelum jarum menunjuk tengah malam.
udara dingin menyergap. tak mengapa, toh langit cerah, bintang bertaburan. kurang lebih 13 kilometer jarak dari kantor ke rumah. tanpa terasa, sudah nyaris lima kilometer kulalui.
selagi enak mengemudi, kuda besi yang kukendarai terasa mulai enggan menunjukkan performanya. seakan tersedak, entakan pada grip gas tak juga membuatnya kembali terjaga. tujuh ekor daya kuda yang tersimpan dalam motor keluaran dua tahun lalu itu tak sanggup lagi terbangun.
segala upaya kucoba. tetap saja, tujuh ekor kuda itu tetap enggan meringkik. mereka lebih memilih tidur.
terpaksa, kini giliran satu tenaga manusia mendorong kumpulan tujuh ekor kuda. akhirnya bobot lima puluh tujuh kilogram harus mengalah pada seratus lebih kilogram.
satu dua meter, masih bisa berjaya. masuk sepuluh meter, capai mulai terasa. mendekati seratus kilometer, dengkul mulai bergetar. menjelang satu kilometer, nyeri dan pegal menjalar hingga bagian bahu.
sejumlah pertolongan darurat yang diharapkan pun tidak bisa tersedia. maklumlah, hanya segelintir manusia "normal" yang masih terjaga pada satu jam menjelang tengah malam itu.
terpaksa, satu dua langkah kembali kuayun. gontai.
satu motor rada besar mulai mengamati. pengendaranya datang dari arah belakang. setelah sempat berhenti dan kulewati, ia menghampiri.
dari balik helm yang menutupi seluruh bagian wajahnya, ia menyapa ramah. sebuah tawaran membantu. mendorong tujuh ekor kuda yang tertidur.
aku sempat tak percaya. sontak aku langsung mengangguk dan mengiyakan. kini tujuh belas ekor kuda mendorong tujuh ekor kuda yang terlelap. ringkikan tujuh belas ekor kuda di malam dingin itu jelas terdengar. mengalahkan satu dua kendaraan yang masih iseng bersliweran.
dalam perjalanan, hanya sekali dua perbincangan yang bisa kulakukan. yang kutahu, ia searah dengan perjalananku pulang. punya saudara yang juga tinggal di sekitar tempatku tinggal. aku tak pernah melihat wajahnya, tak sempat pula kutanyakan namanya.
tiba di ujung persimpangan, ia masih bertanya, perlukan dia mengantarku hingga ke rumah. setelah memastikan bahwa jawabanku adalah tidak, dorongan tujuh belas ekor tenaga kuda itu sontak terlepas.
raungan mesinnya langsung terdengar, meninggalkan asap tipis. aku kaget. belum sempat kuucap terima kasih.
sempat aku memelototi bagian belakang motornya, demi mendapatkan plat nomornya. apa daya, ternyata bagian belakang yang seharusnya tercantel plat nomor kosong melompong.
alhasil, tak ada informasi berharga yang bisa kudapat soal siapa pengendara budiman ini. hanya secuil informasi dari potongan-potongan kisah. ini pun masih sangat sukar dirangkai.
ah, segera aku tersadar. malam itu, setelah bertahun-tahun lamanya, pemahaman atas pertolongan tanpa pamrih baru bisa kucapai. padahal, mungkin sejak pertama kali dapat membaca, ungkapan sejenis ini selalu terngiang-ngiang. rupanya, malam itu aku benar-benar ditolong dengan tanpa pamrih.
kemaren malem, seperti biasa kalo ada waktu, gwe dan bini terlibat diskusi. sebuah kegiatan yang akhir2 semakin "mahal" karena kesibukan masing2, dan baru bisa kite kerjain sesaat sebelum hari berganti menjelang pagi.
ceritanye bini gwe baru aje beli buku. judulnye "blink". gwe masih ngantri buat gantian baca. tapi secara umum yang gwe tangkep, buku itu mengelaborasi arti tindakan yang kudu dilakukan dalam kecepatan ekstra. cepat. kadang tanpa perlu pikir panjang, ato malah kagak perlu mikir sama sekali. itu kesimpulan sementara dari prolog bini gwe.
perubahan pola dalam mengonsumsi berbagai komoditas memicu hal ini. budaya instan. ekspektasi publik akan hal-hal umum yang cenderung kudu dipenuhi. sesegera mungkin.
tindakan ini, sadar ato nggak, mengeliminasi yang namanya kemampuan pikir. menumpulkan daya analitis. sekalipun sebuah "blink" yang berkilau itu biasanya sangat bisa memukau. tanpa harus berpikir radikal.
topik pun bergeser, karena perbincangan mengarah pada keperluan kapan harus "blink" dan kapan musti "think." nggak selamanya "blink" itu hina dan "think" itu mulia. demikian bini gwe mencoba mengurai "kusut masai" otak gwe di pagi buta itu.
yah, mungkin ada benarnya. mungkin juga ada salahnya. paling jelas, yang bisa gwe pahami sementara adalah, "blink" nggak terlepas seluruhnya dari "think." tapi "think" bisa jadi, ato sangat mungkin, tidak "blink."
yah, udah satu setengah jam bergeser lebih dari titik puncak urutan jam dinding di pagi dingin itu. mungkin besok ato lusa gwe beli aje buku tandingan "blink" yang judulnye "think." oaaahhhmmm.
priiit. "seribu mas". dengan ogah-ogahan, lembaran uang segitu minimal musti gue keluarin sebagai pengganti sewa lahan parkir. itu kalo lagi bawa motor. kalo pas lagi bawa mobil, tentu lebih gede lagi biaya sewa lahannye.
kalo lagi pas ke terminal, pasti bayar peron sekian rupiah. juga kalo mau jemput sodara di stasiun kereta. di bandara, airport tax dengan gagah menghadang.
harga di atas belum termasuk pajak sekian persen. itu yang gue baca kalo belanja aneka barang kebutuhan sehari-hari. masuk restoran. belum termasuk pajak sepuluh persen. beli aneka kebutuhan sekunder atawa tersier, kagak jauh beda.
lewat setahun nempatin rumah cicilan, dateng pak rt ngasih surat pemberitahuan pajak terutang. pajak bumi dan bangunan. lagi-lagi, sembari males-malesan gue bayar itu tagihan ke kantor kecamatan.
tiap bulan selalu gondok liat potongan pajak pendapatan sekian rupiah di struk gaji. gitu juga kalo bayar rekening pln. atawa rekening2 lainnye. pokoknye tiada hari tanpa pungutan. ini dan itu.
priiit. "jangan lewat situ mas, lagi ada kerusuhan sepak bola gara2 kesebelasan anunya anu kalah lawan kesebelasan itunya anu." waduh, hajat hidup orang banyak lagi-lagi terkalahkan.
waswas. deg-degan. gelisah. persis perasaan kalo udeh menjelang akhir bulan. surplus atau minus? untung apa buntung?
priiit. wasit dengan tegas menunjuk titik penalti. sekilas terkesan bijaksana dan berwibawa. ancang-ancang diambil, tapi sayang di penendang gagal mencetak gol. emang dasar pemain kite yang kagak punya intelegensia.
beberapa hari kemudian hadirlah pengakuan. "hei, penalti itu hadiah dari pihak penyelenggara tau. karena kalo tim itu nggak lolos, waduh kagak ada gengsinye ini kejuaraan malih!"
yah, yang tersisa cuma nyesek di dada. dunia sepak bola kita yang sebagian besar dihidupi dana apbd, atawa uang rakyat, terus terpenjara dalam kemunafikan.
cuma ada segelintir klub yang nggak lebih dari hitungan sebelah jari, yang kagak ngandelin sumbangan dan pungutan macem2 dari orang2 di luar sistem mereka. sisanye, ya ngandelin sumbangan kagak rela aneka rupa, kayak tarif parkir, pbb,ppn, dan segala rupa retribusi yang dikumpulin jadi apbd.
tragisnye, sebagian besar dari mereka sungguh2 punya perilaku amat memuakkan. udeh disumbang orang banyak, kelakuan mereka terus2an kayak parasit yang malah menghisap habis daya hidup masyarakat.
berbagai skandal, mulai dari yang lucu atau terkesan tolol hingga yang mengerikan gampang terjadi. hampir semua pihak terlibat. tinggal sebut jenis pesenan, kesepakatan harga tercapai, bungkus!
hebatnye, berulangkali dibongkar, berulangkali pula ditemukan cara baru buat berkelit. kalo cuma soal hari ini ngomong ini, besok ngomong itu mah biasa banget. tingkatannye udeh pada, jam ini peraturan anu yang berlaku, jam berikutnye ketentuan itu yang berlaku.
menyepelekan akal budi dan logika yang gue punya. persis belanda kala menjajah indonesia.
hebatnye lagi, janji2 muluk persis tukang obat di kolong jembatan atau terminal selalu lantang diucapkan. "pokoknye kite harus tembus babak final!" hah, final? lha soal ngoper bola aje, para pemain yang elu punya itu kagak becus. bicara cetak gol dan ke final? wah, makanya mandi dulu baru ngomong, biar nggak bau.
segala pelatih asing dijadiin bemper. lha emang yang dipake pemain putus asa dari kompetisi berdosa, gimana mau sukses coba. kalo otak pemain udeh terbiasa ama gol pesenan, pelanggaran terjadwal, dan segala barang haram lainnye, apa yang bisa diharapkan.
priiit. kalo gue itung2, rupiah yg gue sumbangin dengan sangat tidak rela buat menyokong kompetisi munafik itu sudah sangat banyak. mungkin bisa beli satu unit bentley kali, hehehe, berlebihan ye.
tapi banyak atau sedikit, yang jelas gue nggak rela kalo ternyata duit yg gue keluarin itu dibuat melanggengkan kejahatan dan kemunafikan. daripada terus berkoar2 soal teknis yang kagak jelas, karena pemainnye juga bodoh2, mendingan soal ini direnungkan.
kualitas bahan menentukan hasil akhir. kualitas bahan bukan cuma bicara soal pemain. tapi asal usul dari hulu sebuah sistem itu berjalan.
lha duit yang dibuat muter sistem berasal dari rakyat yang sebenernye kagak rela, kok ngarepin hasil sempurna. pertama-tama, yakinkanlah dulu agar2 orang2 seperti gue ini rela mengeluarkan duit buat nyumbang bagi muternye kompetisi itu.
gimane? ya kelakuan yang bener dong. jangan di depan belagak kayak orang suci, perilaku di belakang kayak penjahat kambuhan.
priiit. kembaliin duit gue wooy. lumayan tuh buat beli buku, biar pinter.
jack nicholson. aktor gaek ini seakan jaminan bagi industri film.
andalan terakhirnya, the departed langsung mendulang sukses. sama seperti sejumlah film terdahulu yang relatif berhasil.
tapi, gue bukan mau membahas sukses nicholson di industri sinema. maka, pengkategoriannya pun nggak gue masukkin ke dalam film. tapi keluarga.
kenapa family? gini, semenjak satu bulan terakhir ini mata gue relatif sulit diajak merem lebih awal. maka, kotak elektronik yang bisa memroduksi gambar dan suara jadi pelarian tiap malem.
nah, tiga hari yang lalu, salah satu film nicholson yang diproduksi 2002 silam ditayangin oleh salah satu stasiun televisi. about schmidt. cerita tentang seorang petinggi di perusahaan asuransi yang baru saja pensiun dan tiba-tiba seperti kehilangan segalanya.
alexander payne, yang jadi sutradara dan penulis naskah sungguh brilian. lewat sebuat ide teramat sederhana, unsur drama, komedi, dan satir hidup dikelolanya dengan baik.
nah lagi, film itu bicara soal keluarga. sekalipun unsur kejutan, yang khas genre komedi banyak dijejalkan payne, film ini tetap menyentuh.
lewat kisah hidup warren schmidt (jack nicholson), kita atau gue, seperti diingatkan cerita sendiri. setelah sukses dengan karirnya, walaupun sebenarnya dia pengen jadi wirausahawan, schmidt harus menerima nasib sebagai seorang pensiunan.
saat menghadapi post power syndrome itu, schmidt merasa hanya punya satu teman sejati. dialah ndugu umbo. bocah enam tahun dari tanzania yang belum pernah ditemuinya dan disponsorinya 22 dollar AS per bulan lewat jasa sebuah organisasi.
lalu, berturut-turut kejadian demi kejadian menyentakknya. kematian istrinya. perselingkuhan istrinya yang baru diketahui setelah kematiannya. pengkhianatan temannya yang menyelingkuhi istrinya.
kemudian, rencana pernikahan putrinya semata wayang dengan seseorang yang tidak disukainya. hingga akhirnya terpaksa menerima pernikahan tersebut.
perjalanan darat yang dilakukan schmidt merangkai utuh cerita itu. pada akhirnya air mata schmidt menutup film itu. pemicunya, gambar sederhana kiriman ndugu dari pelosok tanzania yang dilukiskan sedang menggandeng tangan schmidt.
usai menonton, terjadilah pergulatan (duileh) batin. sedikit banyak, berbagai upaya baik yang disengaja maupun nggak, untuk menomorduakan berbagai "vitamin" batin terjadi. keluarga adalah contoh paling mudah.
kesibukan, atau membuat diri sok sibuk, demi mengejar paham materialistik memang mengasyikkan. tapi, pada titik tertentu, jiwa seakan menjadi kosong.
seperti analogi otak kiri yang terlalu dipacu, justru membuat otak kanan cepat membeku. begitulah, saat dunia materi jadi inti, sisi batin pasti terdistorsi.
maka, keseimbangan adalah yang paling disukai. proporsional dan tidak berlebih-lebihan.
tidak perlu menunggu sosok seperti ndugu untuk "menyelamatkan" jiwa kita. look around.
banyak yang bisa kita jadikan charger energi bagi jiwa. sekalipun memang, keluarga dalam banyak hal akan jadi inti segala.
aa gym punya rumusan menarik. 3m. mulailah dari hal kecil, mulailah dari diri kita, dan mulailah saat ini juga.
begitulah, perasaan itu mendera. datang di bulan suci, ketika bahagia mestinya jadi inti segala.
sedih, karena tak lebih dari satu minggu lagi perpisahan mesti dirasakan. sedih, karena masih terlampau banyak persoalan yang belum terselesaikan.
ramadhan, kesedihan juga datang karena masih banyak yang menyia-nyiakan. meskipun perjalananku sendiri pasti tidak sempurna, perih terasa saat banyak yang menodainya.
oh bulan suci, akankah aku diperkenankanNya bertemu lagi denganmu. bisakah aku bermanja-manja lagi dengan kasihNya, saat kebaikan seribu bulan yang terjadi dalam semalam itu kembali turun.
kesedihan, harusnya bukan karena mengingat mati. tapi, muncul karena jatah hidup yang terbagi.
antara kebaikan dan kejahatan. dosa dan pahala.
sedih, tatkala menyadari terlalu banyak yang mesti diperbaiki. sedih, karena mungkin waktu takkan mencukupi.
kira-kira setengah radius putar jarum jam lagi sebelum dzuhur tiba. derum mesin bensin 1.800 sentimeter kubik dengan sistem injeksi bahan bakar elektronis itu meraung kencang.
sistem suspensi bekerja keras menstabilkan sasis. membuat bodi mengayun-ayun, kadang berguncang. ditambah decit kampas rem yang berjibaku memakan cakram dan teromol masing-masing.
klakson, lampu jauh, dan lampu sein bergantian menunaikan tugasnya. miliaran sel otak bekerja cepat. bergantian prioritas kerja.
antara keputusan menggerakkan lingkar kemudi, atau memindahkan tuas perseneling. menekan pedal kopling, rem, atau membejek pedal gas.
lawan-lawan di jalan nyaris semua tak imbang. setidaknya punya kapasitas 6.0 liter. memiliki 10 roda atau 12 roda. sarat muatan. dengan bunyi yang membuat membran gendang telinga bergetar hebat.
ruas-ruas jalan yang melebar dan menyempit. bergelombang serta berlubang. ditambah minimnya penanda sepanjang jalan, membuat katup-katup jantung semakin giat memompakan darah.
belum lagi rupa-rupa perbaikan di sepanjang jalan. pasang tanda disana sini, dengan maksud agar hati-hati, tetapi malah kadang bikin keki.
entah apa yang ada dalam pikiran gubernur jenderal Willem Herman Daendels, saat membangun jalur itu hampir dua abad silam. jelasnya, belasan ribu nyawa meregang sia-sia dalam proyek prestisius yang juga dikenal sebagai Jalan Raya Pos itu.
kini, rute itu memang sudah jadi aset nasional. punya dan jadi tanggung jawab pemerintah. aspal, rumah makan, spbu, dangdut koplo jadi bumbu pelengkap.
jalur itu urat nadi transportasi setiap hari. punya beban ekonomi yang berpengaruh besar terhadap kinerja rupiah.
tiap tahun, saat mudik tiba, beban jalur itu semakin berat. bisa berlipat, karena hampir semua kepentingan dilewatkan rute itu.
maka tak heran, berita soal penumpukan arus kendaraan. cerita soal sarana penunjang atau infrastruktur, seperti jembatan, yang kerap mengalami kerusakan kerap kita dengar.
lebih konyol lagi, semua pekerjaan perbaikan seakan dimepetkan waktunya dengan lebaran. saat ramadhan.
ketika tuntutan menahan hawa nafsu mesti dipenuhi. kita disuguhkan godaan untuk memaki.
ah, Daendels mungkin telah melakukan genocide selama memerintahkan membuat jalan itu. tapi adalah konyol jika tetap membiarkan jalur itu punya berbagai julukan mengerikan.
belasan ribu nyawa melayang, tidaklah setimpal dengan 1.000 kilometer yang dihasilkan. tetapi, adalah layak perhatian berlebih ditujukan pada 1.000 kilometer jalan yang punya dampak nasional.
jendela dibuka. udara segar dihirup.
bunyi suspensi terdengar. nyit, nyit, nyit berdecit. mirip suara tikus terjepit.
tiga tahun lalu, ketika industri jurnalisme profesional mulai gue tekuni, berkenalanlah gue dengan ungkapan seperti judul di atas. bukan sejenis film komedi romantis. tapi anjuran agar tulisan menjadi seringkas mungkin.
keep it short, simple, and tell. maksudnya, jangan berbuih-buih dan terlampau banyak bumbu. karena akan mengacaukan "masakan" secara keseluruhan.
minggu kemarin, anjuran itu gue anjurkan kembali pada orang lain. temen-temen muda yang tertarik jadi jurnalis tulis. sungguh, bukan tanggung jawab mudah. mengenalkan dunia baru dalam tempo kurang dari tiga jam.
persoalannya bukan sebatas kiss and tell yang harusnya disampaikan. bahwa paling penting bukan soal bagaimana cara kita menulis. bukan juga seberapa banyak teori yang menyertainya. tetapi sikap mental yang kudu dibangun selama proses itu.
kualitas memang nyaris identik dengan penguasaan teknis. tapi, tanggung jawab terhadap dampak tulisan perlu lebih dahulu dipatri. mereka harus diyakinkan, profesi ini layaknya panggilan hati. didedikasikan bagi kepentingan kemanusiaan.
ada ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan manusia lain yang bakal terpengaruh olehnya. bukan sekedar kiss and tell, setelah itu terima bayaran dan kelayapan menikmati akhir pekan.
maka, adalah sangat zalim jika profesi ini disalahgunakan. dijadikan kendaraan melanggengkan perselingkuhan dengan kekuasaan. semua demi mengeduk keuntungan finansial.
gue nggak tahu, apakah temen-temen muda itu nangkep maksud gue. soal tujuan mulia yang kudu dimiliki jurnalis. bukan sekedar kiss and tell. bukan hanya bicara 5W+1H plus so what. tidak sebatas hard news dan features. tidak melulu soal piramida terbalik.
Publicity, publicity, publicity is the greatest moral factor and force in our public life. Joseph Pulitzer (1847-1911)
masih belum hilang kekaguman gue atas dahsyatnya karunia Allah SWT setelah si kecil lahir -soal pertarungan jutaan sperma sebelum hanya satu yang bisa menembus sel telur, pembentukan DNA, sel, organ, ruh, dan lain-lain yang teramat ajaib- beberapa minggu terakhir ini ada kejutan lain lagi. bahwa kehadiran si kecil di tengah rutinitas gue yang menggila bener-bener bak oase yang menyegarkan.
sebelumnya, ungkapan dari beberapa orang yang bilang, kalo capek setelah kerja bakal kabur setelah ngeliat polah anak masih gue anggep angin lalu. sebagai penggila tidur (agak kebluk malah), gwe emang telanjur mempercayai kalo aktivitas memejamkan mata sembari ngiler (yaikkss) itu adalah obat paling mujarab buat ngusir lelah.
sebulan pertama sejak pertama kali si kecil nongol ke dunia, omongan itu emang blom bener-bener terbukti. jarak 80 kilometer, ditambah halangan lumpur panas yang sampe hari ini masih meluber jadi pembatas dunia kita.
barulah, setelah si kecil bersama bundanye gwe boyong ke istana mungil kita, kira-kira enam minggu silam, omongan banyak orang itu gue buktiin. pulang ke rumah menjelang tengah malem, yang praktis gak bisa gue hindarin, bukan alasan buat langsung merem.
seolah ngerti, pada jam-jam menjelang dini hari itulah biasanya si kecil melek lagi setelah tidur di sore hari. terlalu berharga, bagi gue, untuk lantas dilewatkan dengan aktivitas memejamkan mata.
tanpa harus ngebangunin bundanye, si kecil ngulet-ngulet sembari cengar cengir. seolah ngasih isyarat buat ngajak maen.
ampun, si kecil lagi ngingetin gue kalo maen itu aspek penting juga di tengah kesibukan harian. rutinitas yang membelenggu.
sembari ngompol, si kecil ngajak gue untuk, minimal, menyentuh badannye. sambil gwe ganti celananye yang basah, tangannye mulai gerak-gerak. lidah yang melet-melet, terus-terusan ngeluarin suara-suara "nggak jelas," kakinye nendang-nendang semakin keras.
gak terasa, radius putar jarum jam tinggal sisa sekitar tiga jam lagi sebelum masuk waktu shubuh. sembilan puluh sentimeter kubik susu tandas sudah. masuk perlahan ke saluran pencernaan. dalam, sebelum keluar lagi lewat mekanisme ekskresi yang canggih itu.
memang, gak perlu valium buat ngebuat kita tidur nyenyak setelah seharian lelah. membaui aroma si kecil, mengajak dia main, dan ngajak "ngobrol" sambil ngasih sentuhan-sentuhan sayang adalah obat terbaik yang gak seorang dokter pun di dunia ini yang punya resepnya.
“A hundred years from now it will not matter what my bank account was, the sort of house I lived in, or the kind of car I drove…but the world may be different because I was important in the life of a child.” -Forest I Witcraft- (1884-1967)